Minggu, 23 November 2014

Sebuah Kasus Pembunuhan di dalam Area (Bagian 7)

Bagian 7

Bagaimana mungkin!
Pada saat ini, pikiranku tiba-tiba berteriak dalam keheningan, dan ada banyak alasan untuk hal ini.
Yang pertama, ruang tamu dari penginapan seharusnya dilindungi oleh sistem. Bahkan bila jendelanya terbuka, benar-benar mustahil untuk seseorang untuk dapat memasuki atau melempar sesuatu ke dalam.
Selain itu, benar-benar sulit dipercaya bahwa pisau belati lempar itu dapat menghasilkan Luka tikam terus-menerus yang dapat menghabiskan HP dari seorang pemain level menengah. Mustahil bila 5 detik telah berlalu dari saat pisau belati itu mengenai Yoruko hingga waktu dia menghilang.
Ini tidak mungkin dapat terjadi. Metode dari pembunuhnya tidak dapat dianggap sebagai «PK di dalam area». Ini sudah masuk ke dalam sebuah serangan instant death yang mengerikan.
Aku menahan napasku dan merasakan sesuatu yang sangat dingin di punggungku dan memaksa diriku untuk berpaling dari lantai batu tempat Yoruko menghilang. Aku lalu melihat ke atas dan melebarkan kedua mataku seperti lensa kamera untuk melihat jalan yang ada di seberang.
Akhirnya, aku melihatnya.
Sekitar 2 blok dari penginapan, di atas atap dari sebuah bangunan yang sama tingginya dengan tempat ini.
Sebuah bayangan hitam berdiri di sana dengan matahari terbenam yang berwarna ungu tua sebagai latar belakangnya——
Orang itu ditutupi oleh sebuah jubah panjang bertudung hitam kelam, sehingga mustahil untuk dapat melihat wajahnya. Aku menolak keluar sebuah istilah 'dewa kematian' dari pikiranku sebelum berteriak dengan keras,
"BAJINGAN ITU...!!"
Aku melangkahkan kaki kananku ke ambang jendela dan berteriak kembali tanpa melihat,
"Asuna, aku serahkan sisanya kepadamu!"
Aku lalu melompat ke arah bangunan yang dipisahkan dari tempat ini oleh jalan.
Tetapi bahkan dengan level tinggi di dalam agility, masih terlalu gegabah untuk melompati jarak di atas 5m tanpa berlari. Aku tidak dapat menggunakan sebuah tempat untuk mendarat, dan hanya berhasil menggunakan tangan kananku yang terulur ke depan pada detik terakhir untuk meraih sisi dari atap. Aku lalu menggunakan level strength milikku yang telah diperbaiki untuk menarik badanku, berputar di udara dan mendarat di atap. Pada saat ini, suara cemas Asuna dengan segera datang dari belakang.
"TIDAK BOLEH. KIRITO-KUN!"
Aku mengerti dengan jelas mengapa dia ingin menghentikanku. Bila aku terkena oleh pisau terbang itu, ada kemungkinan bahwa aku akan mati dengan segera.
Akan tetapi, aku benar-benar tidak dapat membiarkan kriminal yang akhirnya muncul pergi hanya untuk keselamatanku sendiri.
Akulah yang berkata akan melindungi keamanan dari Yoruko. Akan tetapi, aku hanya berpikir dalam sebuah sikap yang sangat sempit bahwa tidak akan apa-apa bila kita bersembunyi di dalam penginapan, dan tidak pernah berpikir bahwa hal ini mungkin dapat terjadi. Bila sistemnya dapat memberikan perlindungan, lalu di jalan —— di «area dalam» seharusnya dapat dianggap sebagai tempat yang aman. Karena musuhnya dapat melakukan PK di dalam area, secara umum mungkin untuk menggagalkan perlindungan di dalam penginapan. Mengapa aku tidak berpikir mengenai hal ini?
Berdiri di atap di kejauhan, pria berjubah hitam itu terkena angin yang berhembus keras kepadanya, terlihat seperti dia sedang mengejekku yang merasa sangat menyesal.
"TUNGGU DI SI...!"
Aku berteriak dan mulai berlari ke depan lagi sebelum menghunus pedang dari punggungku. Aku tidak dapat memberikan luka apapun dengan pedangku selama di jalan, tetapi setidaknya aku dapat menangkis pisau yang dia lemparkan.
Aku dengan sengaja memastikan bahwa kecepatan berlariku tidak melambat sementara aku terus melompat dari atap yang ini menuju ke atap berikutnya. Para pemain yag berjalan di bawah mungkin berpikir aku adalah orang gila yang memamerkan agility milikku dalam sebuah pertunjukkan, tetapi aku tidak punya waktu untuk peduli mengenai hal-hal seperti itu sementara aku menarik kerah mantelku dan terus melompat dan menembus kegelapan.
Pembunuh di dalam jubah bertudung itu kelihatannya tidak berniat melarikan diri atau menyerang karena dia hanya memperhatikanku mendekat. Ketika kami berdua hanya berjarak 2 gedung, pembunuh itu tiba-tiba meletakkan tangan kanannya ke bagian dalam jubahnya. Aku dengan segera menahan napasku dan menggerakkan pedangku ke depan.
Akan tetapi...
Dia menaikkan tangan kanannya keluar, dan apa yang dia ambil bukanlah sebuah pisau lemapr. DI bawah warna langit senja, sebuah warna biru muda tiba-tiba muncul di depan mataku. Itu adalah teleport crystal——
"Kurang ajar!"
Aku mengutuk dan menggunakan tangan kiriku untuk menarik tiga jarum lempar dengan tangan kiriku sementara berlari ke depan sebelum melemparkannya semua dalam sekali lemapr. Tentu saja, aku tidak berniat untuk melukainya, tetapi aku berharap untuk menggunakan gerakan menghindar secara insting untuk memperlambat dia mengucapkan perintahnya.
Apa yang menjengkelkan adalah musuhnya terlihat terlalu tenang. Orang itu tidak terlihat ketakutan sementara dia menerima tiga jarum lempar yang terbang ke arahnya dengan efek cahaya berwarna perak sebelum dengan santai mengangkat teleport crystal itu.
Ketiga jarum lempar itu semuanya ditahan oleh dinding sistem ungu di depan jubah bertudung itu dan dengan segera jatuh ke atap. Aku berpikir setidaknya aku harus mendengar suara musuhnya sementara aku menajamkan pendengaranku. Bila aku tahu tujuannya, aku dapat menggunakan kristal yang sama untuk mengejarnya.
Tetapi rencana ini gagal karena pada masa yang paling kritis, sebuah bel yang bersuara keras dapat di dengan di seluruh jalanan Marten.
Telingaku —— atau lebih tepatnya area pendengaranku sebagian besar dipenuhi oleh bunyi lonceng yang berdesibel tinggi ini yang menandakan bahwa sekarang jam 5, jadi aku tidak dapat mendengar perintah yang dikatakan oleh pembunuh itu dengan volume suara terkecil yang mungkin. Cahaya teleport biru itu muncul, dan bayang-bayang jubah hitam kelan bertudung itu menghilang di depanku, yang telah bergerak hingga berjarak satu jalan saja jauhnya.
"…Ugh!"
Aku tidak dapat meneriakkan apapun sama sekali, dan aku menaikkan pedang yang ada di tangan kananku, terus menuju tempat di mana pria itu berdiri sebelumnya. Efek cahaya ungu itu tersebar, dan di tengah penglihatanku, apa yang dapat aku lihat adalah kata-kata dari sistem, «Immortal Object».
Sword Art Online Vol 08 - 127.jpg
Aku meninggalkan atap dan pindah ke jalan untuk kembali ke penginapan, berhenti ditempat Yoruko menghilang dari jalan, dan melihat ke arah pisau lempar berwarna hitam kelam itu.
Baru beberapa menit yang lalu, seorang pemain wanita meninggal di sini. Aku tidak dapat mempercayai hal ini tidak peduli apa yang dikatakan. Untukku, kematian seorang pemain adalah hasil dimana pemain itu mencoba segala macam usaha keras dan segala macam cara menghindar, hanya saja usaha mereka belum cukup. Sesuatu seperti sebuah metode pembunuhan yang tidak mungkin dihindari pada saat itu seharusnya tidak mungkin ada.
Aku membungkuk untuk mengambil pisau itu. Pisau itu kecil, tetapi pada dasarnya terbuat dari logam yang sama, dan terasa cukup berat. Bilah pedang yang terlihat seperti pisau cukur itu memiliki duri yang berbentuk gigi seperti hiu terbalik. Benar, ini adalah sebuah senjata yang dibuat dengan ideal yang sama seperti tombak pendek yang telah membunuh Kains.
Bila aku menancapkan benda ini ke tubuhku sekarang, akankah HP milikku turub secara drastis? Aku benar-benar didorong oleh keinginan ini untuk bereksperimen, tetapi aku menutup kedua mataku untuk menghilangkan dorongan ini dari pikiranku dan memasuki penginapan.
Aku berjalan menuju lantai dua, mengetuk pintu dan megnatakan namaku. KACHINK, kunci pintunya berdering pelan sementara pintunya terbuka.
Asuna sudah menghunus rapier miliknya. Ketika dia melihat bahwa itu adalah aku, dia memberikan ekspresi wajah rumit yang gelisah namun lega sementara dia menjaga agar volume suaranya tetap kecil untuk berteriak kepadaku,
"IDIOT! JANGAN BEGITU GEGABAH!"
Fuu. Dia menghela napas panjang dan menjaga volume suaranya jauh lebih kecil sebelum melanjutkan.
"…Lalu... bagaimana mengenai itu?"
Akus sedikit menggelengkan kepalaku.
"Aku tidak dapat menangkapnya. Dia menggunakan teleport untuk melarikan diri. Aku bahkan tidak dapat mengetahui apakah dia adalah seorang pria atau wanita baik dari wajah maupun suaranya. Yah... kalau itu adalah Grimlock, aku rasa dia adalah seorang pria..."
Mustahil untuk orang dengan jenis kelamin yang sama untuk menikah di dalam SAO. Bila pemimpin dari Golden Apple adalah seorang wanita,Grimlock, yang menikahinya, pastinya adalah seorang pria. Dan ini adalah sesuatu yang perlu aku pikir dengan keras, benar-benar percuma. Sebenarnya, sekitar 80 persen dari pemain SAO adalah pria.
Kelihatannya sejak awal kata-kata ini tidak begitu berarti.——
Menarik tubuh besarnya ke sofa seerat mungkin, Schmitt dengan tidak hati-hati mengeluarkan sebuah jawaban sementara dia mengeluarkan sebuah suara logam. Kachank kachank.
"…Tidak benar."
"Tidak benar... apa yang tidak benar?"
Schmitt tidak melihat kepada Asuna, tetapi menurunkan kepalanya lebih rendah lagi dan mengerang,
"Itu bukan dia. Orang itu... si jubah hitam yang berdiri di atap bukanlah Grimlock. Grim itu jauh lebih tinggi, dan... dan..."
Asuna dan aku menahan napasku karena menunggu-nunggu kata-kata yang hendak dia katakan berikutnya.
"Jubah beertudung itu adalah sesuatu yang menjadi milik pemimpin dari GA. Dia biasanya akan berpakaian secara tidak mencolok seperti itu setiap kali dia berada di jalan. Benar... dia sedang memakai jubah itu ketika dia berangkat untuk menjual cincin itu! Orang itu... yang barusan adalah dia. Dia datang untuk membalas dendam kepada semua anggota di sini. Itu adalah hantu dari pemimpin kami."
Haha, hahaha. Tiba-tiba, sebuah tawa membuatku berpaling dari pisau belati itu.
"Bila itu adalah hantu, maka semuanya menjadi mungkin, dan PK di dalam area akan menjadi sangat mudah. Kita bisa saja membuat pemimpin guild untuk mengalahkan bos terakhir dalam SAO. Bila tidak ada HP sejak awal, mustahil untuknya untuk mati.
Haha, hahaha. Schmitt terus mengeluarkan tawa histeris semacam itu. Aku melempar pisau belati hitam yang ada di tanganku ke meja di depannya.
GONK! Sebuah suara berat berbunyi, kelihatannya memutuskan saklar di dalam Schmitt karena tawanya berhenti. Dia memandang mata pedang berduri yang memeberikan keberadaan yang ganas ini selama beberapa detik——
"Hii…"
Orang berotot itu melemparkan tubuh bagian atasnya ke belakang, dan aku menjaga suarau agar tetap rendah dan berkata,
"Itu bukan hantu. Pisau bealti ini benar-benar ada. Pisau ini hanyalah sebuah kode program yang tertulis di server SAO. Pisau ini sama dengan tombak pendek yang kamu masukkan di dalam penyimpanan. Bila kamu tidak percaya, kamu dapat mengambil pisau ini dan memeriksanya dengan cara apapun yang kamu inginkan."
"Tidak, tidak terima kasih! Kamu dapat mengambil tombak itu kembali juga!"
Schmitt berteriak, membuka menu window miliknya, salah menekan dengan jemarinya yang gemetar untuk beberapa kali sebelum akhirnya memateralisasikan tombak hitam pendek itu. Senjata yang muncul pada window kelihatannya seperti dilemparkan karena tombak itu mendarat di sebelah pisau itu.
Raksasa itu memegang kepalanya lagi, dan Asuna berkata kepadanya dalam suara yang lemah lembut,
"…Schmitt-san, aku merasa bahwa itu juga bukan hantu. Hal itu karena bila terdapat hantu di Aincrad, bukan hanya hantu dari pemimpin Golden Apple yang muncul. Ke-3500 orang yang meninggal hingga saat ini semuanya akan tidak senang. Apakah aku benar?"
Itu benar, dan aku juga merasa begitu. Bahkan bila itu aku, aku memiliki kepercayaan diri bahwa bila aku mati di sini, aku akan merasa benar-benar tidak senang dan mematerialisasikan diri menjadi seorang hantu. Aku percaya bahwa hanya pemimpin dari KoB yang merupakan orang yang akan menerima nasibnya dan menjadi seorang Buddha.
Akan tetapi, Schmitt terus menundukkan kepalanya sementara dia berpaling.
"Kamu... tidak tahu dia. Orang itu... Griselda itu sangat galak dan bertekad... akan tetapi, dia juga sangat ketat terhadap ketidakadilan dan kelicikan. Dia mungkin jauh lebih galak darimu, Asuna-san. Itulah mengapa, bila seseorang memasang sebuah perangkap dan membunuhnya... Griselda pasti tidak akan memaafkan mereka, bahkan bila dia harus menjadi hantu untuk menghakiminya..."
Di luar dari jendela yang terkunci ini, yang mungkin dikunci oleh Asuna, mataharinya hampir terbenam. Lampu-lampu jalan yang dinyalakan pada beberapa titik seharusnya menjadi tempat dimana para pemain menemukan tempat menginap dan membuat jalanan ramai. Tetapi herannya, suara-suara keramaian itu kelihatannya menghindari ruangan ini.
Aku menarik napas dalam dan memecahkan keheningan yang menyelimuti seluruh ruangan.
"…Bila kamu percaya itu penyebabnya tidak apa-apa, tetapi aku pasti tidak akan percaya. Kedua 'insiden pembunuhan di dalam area' ini jelas-jelas memiliki semacam logika dalam pelaksanaan sistemnya. Aku pasti akan menemukannya dan membuktikannya kepadamu... dan kamu perlu mengikuti perjanjian kita dan menolong kami."
"Me... menolong?"
"Bukankah kamu berkata bahwa kamu akan mengatakan kepada kami toko yang sering di datangi Grimlock? Sekarang ini, ini adalah satu-satunya petunjuk yang kita punya. Bila kita mengawasinya selama beberapa hari, kita pasti akan menemukannya."
Sejujurnya, bahkan bila kita menemukan Grimlock yang telah membuat tombak hitam pendek dan mungkin pisau belati yang ada di sebelahnya itu, aku tidak ada ide mengenai apa yang harus dilakukan berikutnya. Kita bukanlah 'army', dan kita tidak mungkin menguncinya.
Akan tetapi, kata-kata yang dikatakan oleh Yoruko sebelum dia terbunuh —— 'orang itu melakukan balas dendam kepada kita yang tidak dapat menyerahkan keinginan kita, dan dia memiliki hak untuk membalas dendam untuk pemimpin guild'. Bila hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Yoruko, Grimlock mungkin ingin membalas dendam kepada semua orang yang menentang penjualan cincin itu,, atau bahkan mungkin ingin membalas dendam terhadap semua anggota. Dan motif di baliknya akan menjadi perasaan kuat dari seorang suami kepada pemimpin yang telah meninggal.
Lalu, bila kita dapat bertemu dan berbincang-bincang secara serius, mungkin akan ada perubahan. Sekarang ini, kita hanya dapat bertaruh kepada kemungkinan semacam itu.
Begitu mendengar kata-kataku, Schmitt merendahkan kepalanya, namun segera berdiri dari kursi. Dia berjalan ke meja tulis di samping dinding, mengambil perkamen dan pena bulu yang telah disiapkan sebelum menulis nama dan lokasi dari tokonya.
Aku melihat punggung dari tubuh itu dan tiba-tiba memikirkan sesuatu. Aku lalu bertanya,
"Ah, selain itu, tolong tuliskan nama dari semua anggota dari guild Golden Apple pada awalnya. Aku akan pergi menuju «Monumen Kehidupan» untuk memeriksa orang yang selamat setelahnya."
Raksasa itu kembali dengan diam mengangguk dan terus menulis selama beberapa detik.
Segera sesudahnya, dia mengambil perkamen yang telah ditulis itu dengan satu tangan dan menyerahkannya kepadaku, berkata,
"…Ini memalukan bagi seorang pemain dari grup penyelesai, tetapi... aku sedang tidak berniat untuk pergi keluar sekarang. Tolong keluarkan aku dari kelompok penaklukan bos juga, dan..."
Semangat yang sebelumnya ada di dalam dirinya telah benar-benar menghilang sementara apa yang tersisa adalah sebuah ekspresi hampa. Pengguna tombak yang merupakan bagian dari kepemimpinan Divine Dragon Alliance berkata dengan halus,
"…Berikutnya, tolong antar aku kembali ke markas besar DDA."
Baik Asuna ataupun aku tidak dapat mengolok-olok Schmitt untuk tindakannya yang seperti pengecut itu.
Kami memiliki seorang raksasa yang ketakutan di tengah sementara kami bergerak dari penginapan yang ada di lantai k3-57, melewati gerbang transfer, dan turun ke markas besar utama di lantai ke-56. Asuna dan aku tidak pernah berhenti melihat sekeliling di sudut-sudut yang gelap. Bila ada seseorang dengan sebuah tudung atau jubah yang tidak ada hubungannya dengan tempat ini muncul dengan tiba-tiba pada titik ini, kami berdua mungkin akan secara naluri berlari ke sana.
Bahkan setelah melewati gerbang-gerbang yang ada di markas besar, Schmitt tidak pernah menunjukkan sebuah ekspresi lega. Aku melihat siluet punggungnya dengan tergesa-gesa masuk ke dalam gedung dan menghela napas.
Aku bertukar pandang dengan Asuna yang berada di sebelahku untuk beberapa waktu,
"…Aku benar-benar menyesalkan... apa yang terjadi pada Yoruko-san..."
Asuna membisikkan kata-kata itu seraya dia menggigit bibirnya. Aku menjawabnya dengan sebuah suara serak 'yeah'.
Sebenarnya, kematian Yoruko memberikanku kejutan beberapa kali lipat lebih banyak dibandingkan kematian Kains. Pikiranku terus-menerus mengingat tentang dia yang jatuh dari jendela, dan aku meneruskan,
"Sejujurnya, hingga sekarang, aku merasakan bahwa kita sedang berlayar dalam sebuah perahu... tetapi kita tidak dapat melakukan hal itu sekarang. Bahkan bila itu demi Yoruko, kita harus memecahkan kasus ini —— Aku akan pergi ke dekat restoran itu untuk menyergapnya. Bagaimana denganmu, Asuna?"
Begitu mendengar pertanyaanku, Asuna dengan segera mengangkat kepalanya dan menjawab dengan jelas,
"Tentu saja aku juga ikut. Mari kita usut kebenarannya."
"…Begitukah? Lalu, tolong pandu aku ke sana."
Sejujurnya, aku benar-benar ragu mengenai apakah aku perlu terus membolehkan Asuna untuk menemaniku. Bila kita terus terlibat dengan kasus ini, tidak akan mengejutkan bila kita di target oleh Grimlock dan menjadi sasaran berikutnya.
Tetapi Asuna dengan cepat berbalik yang kelihatannya untuk menyela keraguanku dan mengarah ke gerbang transfer. Aku menarik napas dalam di udara malam yang dingin ini dan menghembuskannya sebelum mengikuti rambut yang berwarna kastanye itu.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar